Dari Tanah Tidur Menjadi Ladang Harapan: Kisah Kaum Ibu Prabumulih Wujudkan Kemandirian Pangan

MEDIAPAGI.CO.ID, Prabumulih —Harga bahan pangan menjadi perhatian utama kaum ibu, termasuk Tri Ningsih, warga Kelurahan Patih Galung, Kota Prabumulih. Ia harus terus mencari cara kreatif memenuhi kebutuhan dapur di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok.

Setiap minggu, Tri Ningsih perlu merogoh kocek Rp200 ribu-Rp300 ribu untuk belanja di pasar. Ia sempat terpikir untuk menanam bahan makanan sendiri di pekarangannya yang selama ini hanya menjadi tanah tidur.

Perempuan 57 tahun itu pun memulai membabat ilalang di sekitar rumahnya, lalu menanami sayur-sayuran dan umbi-umbian. Namun, upayanya belum berbuah. Minimnya pengetahuan membuat hasil produksi di lahan tersebut tidak optimal.

Pada waktu bersamaan, Pertamina EP Prabumulih Field yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 sedang mengampanyekan dukungan kemandirian pangan melalui program MUDA BERSAMA (Perempuan Berdaya, Bersama Kelola Sampah).

Melalui program tersebut, Pertamina menyediakan pelatihan pembuatan pupuk dari limbah rumah tangga, pengetahuan dasar herbal/jamu dari tanaman obat keluarga (TOGA), hingga pelatihan pemasaran.

Tri Ningsih yang menjabat Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning pun ikut dalam program tersebut. Tiga puluh perempuan di komunitas itu belajar membuat pupuk organik dari limbah rumah tangga seperti sisa sayur, air cucian beras, dan kompos.

Baca Juga  SMPN 3 Teluk Gelam Peringati Hari Guru Nasional, mengusung tema "Guru Hebat Indonesia Kuat"

Dengan bekal ilmu baru, Tri Ningsih kembali menggarap tanah tidur di sekitar rumahnya. Ia menanam sayur-mayur, buah-buahan, umbi-umbian, hingga tanaman obat. Tanaman-tanaman itu tumbuh subur berkat pupuk organik.

Ibu-ibu KWT Kemuning sekarang tak lagi dipusingkan dengan harga bahan pangan karena mereka bisa memetik dari pekarangan masing-masing. Mereka pun kini hemat biaya belanja Rp200 ribu-Rp300 ribu per minggu.

Hasil panen tidak hanya untuk kebutuhan dapur keluarga, tapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah. Produk-produk seperti minuman wedang beras kencur, jamu seduh instan, wedang kunyit asam, serta bibit tanaman siap tanam dijual Rp15 ribu-Rp20 ribu. Omzet per bulan menembus Rp1 juta.

“Tantangan kami jadikan penyemangat. Terpenting kompak dan saling mendukung. Kami ingin masyarakat sekitar ikut mandiri, bisa hasilkan sesuatu dari rumah,” ucap Tri Ningsih.

KWT Kemuning tak menyimpan ilmu baru dari program Pertamina itu untuk diri mereka sendiri. Saat ini, mereka menjadi pusat belajar bagi 13 KWT lain di Prabumulih.(Hera)

Komentar