MEDIAPAGI.CO.ID, OKI — Hampir empat bulan kemarau melanda Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Di tengah lahan yang mengering, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kabut asap yang mengganggu aktivitas warga, masyarakat menempuh satu ikhtiar lain: menengadahkan tangan, memohon hujan kepada Allah SWT.
Salat Istisqa atau salat meminta hujan digelar serentak di 18 kecamatan di OKI. Di Kayuagung, jemaah terdiri dari Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki, Wakil Bupati Supriyanto, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah, para santri, dan masyarakat.
Sebelum salat dimulai, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) OKI, Ustadz Muazni, memandu jemaah. Salat dipimpin Ustadz Abdurrohim Al Hafidz, imam tetap Masjid Agung Sholihin.
Doa tersebut berjalan beriringan dengan upaya nyata mengatasi karhutla. Bupati Muchendi mengatakan, berbagai langkah telah ditempuh, mulai dari penetapan status siaga hingga pengerahan personel gabungan untuk melakukan pencegahan dan pemadaman. TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah pusat dan provinsi, serta masyarakat peduli api turut terlibat dalam penanganan di lapangan.
“Berbagai upaya sudah dilakukan bersama-sama di lapangan. Namun, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, kita juga memohon pertolongan Allah SWT agar diturunkan hujan yang membawa keberkahan bagi Kabupaten OKI,” kata Muchendi di Kayuagung, Jum’at, (9/10).
Ia berharap hujan segera turun untuk membasahi lahan yang mengering, membantu mengatasi kebakaran, dan mengurangi kabut asap. Muchendi juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran.
Setelah salat, jemaah mendengarkan tausiah dari Ustadz H. Beni Hidayat, L.C. Ia mengajak masyarakat menjadikan kemarau dan berbagai kesulitan yang menyertainya sebagai momentum untuk memohon ampunan, memperbanyak istigfar, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Namun, permohonan agar hujan diturunkan, menurut pesan ceramahnya, juga perlu disertai kesadaran untuk menjaga hubungan dengan sesama dan alam. Beni mengingatkan bahwa pembakaran lahan secara sengaja bukan hanya merusak lingkungan, melainkan juga dapat membawa kesusahan bagi banyak orang.
“Mari kita memohon ampunan kepada Allah SWT dan berharap keberkahan-Nya. Pada saat yang sama, kita harus menjaga perilaku dan lingkungan. Membakar lahan dengan sengaja hingga asapnya mengganggu kesehatan dan kehidupan orang banyak merupakan perbuatan yang tidak boleh dianggap sepele,” ujar Beni.
Salat Istisqa pun menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat OKI menghadapi kemarau panjang. Di tengah doa yang dipanjatkan agar hujan segera datang, usaha memadamkan api, mencegah pembakaran, dan melindungi sesama terus berjalan.(Indra S)












Komentar